Subscribe For Free Updates!

We'll not spam mate! We promise.

Wednesday, 15 February 2012

About

Latar Belakang Penulis

Nama :
Arif H. Sanjaya
Lahir :
Surabaya, November 1980
Pekerjaan :
Mini Consultan






Biografi Pendidikan
TK Seroja - Palapaso, Dili - Timor Leste
SDN 7 Comoro, Dili - Timor Leste
SDN 3 Lapangan Pramuka, Dili - Timor Leste
SMPN 2,  Dili - Timor Leste
SMUN 1 Becora, Dili - Timor Leste
S1, Teknik Elektro. Program Studi Elektronika
Institut Teknologi Nasional, Malang - Jawa Tmur

Buku Favorit : Ilmu Tauhid, La Tahzan, Bruce Lee 40 Spirit of Success.

Sejarah Singkat 
Penulis adalah anak ke-3 dari 3 bersaudara, yang lahir di kota pahlawan Surabaya. Ayah kelahiran Blitar, seorang veteran perang Seroja pada tahun 1976 yang dulu pernah menjadi pasukan sukarelawan dan direkrut oleh Batalyon 507 Sikatan (sekarang Batalyon Raider 500, baca selengkapnya di sini) dan sekarang telah menjalani masa pensiun. Ibu kelahiran Tuban, seorang guru Agama Islam untuk sekolah dasar.

Pada tahun 1986, ketika Ayahnya di pindah tugaskan penulis hijrah ke asrama tentara Yonif 744 yang berlokasi di Comoro, kota Dili Barat (sekarang sudah menjadi Timor Leste). Sejak kecil penulis banyak belajar budaya dan bahasa Tetun Dili dari temannya dan para TBO (Tenaga Bantu Operasional). TBO adalah sebutan untuk pembantu ABRI yang direkrut dari orang pribumi Timor Leste. Usianya mereka masih relatif muda. Kerana menjadi seorang anak ABRI, sudah biasa kalo ditinggal berperang dan berpindah tempat dari satu asrama ke asrama lainnya. Selama di Timor Leste, selain di desa Comoro. Penulis juga pernah tinggal di desa Taibesi, Farol dan Kampung Merdeka. Penulis pernah juga berlibur ke rumah pamannya di kabupaten Ainaro, kabupaten yang sejuk dan kalo pagi pemandangan bukit Ramelau terpampang indah sekali. Yang salut dari persahatan di Timor Leste adalah semboyan mereka yang disebut "Maun Alin" (artinya : Kakak Adik). Ketika anda sudah mereka anggap sebagai saudara, maka mereka akan mencoba membela anda tanpa memandang apakah anda anak ABRI atau bukan. Padahal saat itu, anak ABRI sangat dimusuhi. Tapi penulis merasakan tidak pernah mendapat diskriminasi dan temannya selalu ada saat dibutuhkan, termasuk saat ada ancaman dari orang lain.

Sebelum terjadi kerusuhan tahun 1999, penulis hijrah ke kota Blitar untuk melanjutkan studinya di ITN selama 5 tahun. Dan tahun 2006 hijrah ke Jakarta mencari kerja, dan menjadi seorang technical support di sebuah perusahaan Sistem Integrator.